Mouthing pada Anak Berkebutuhan Khusus

Mouthing pada Anak Berkebutuhan Khusus

Melihat bayi atau balita memasukkan benda ke mulut adalah pemandangan umum dan wajar, karena hal tersebut merupakan bagian dari perkembangan eksplorasi sensoris. Namun, ketika perilaku ini berlangsung secara terus menerus hingga usia yang lebih tua—khususnya pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)—mouthing dapat menjadi indikator dari kebutuhan sensorik yang belum terpenuhi, tantangan komunikasi, atau bahkan hambatan motorik. Mouthing yang menetap dapat mengganggu pembelajaran, menimbulkan risiko kesehatan, serta mengindikasikan adanya fungsi perilaku yang lebih dalam.

Mouthing pada Anak Tipikal: Tahapan Perkembangan yang Normal

Pada bayi dan balita, mouthing merupakan aktivitas yang sangat umum. Mouthing cenderung mencapai puncaknya sekitar usia 7,5 bulan dan secara alami menurun hingga usia 15 bulan. Perilaku ini berfungsi sebagai:

  • Eksplorasi Sensorik: Bayi menggunakan mulut sebagai alat utama untuk mengeksplorasi tekstur, suhu, bentuk, dan ukuran benda. Hal ni membantu perkembangan sistem sensorik dan koordinasi tangan-mulut.
  • Stimulasi dan Penguatan Motorik Oral: Mouthing melatih otot-otot mulut dan rahang yang penting untuk makan dan berbicara.
  • Perkembangan Fonetik dan Vokal: Mouthing objek sering disertai vokalisasi yang bervariasi dan lebih kompleks. Mendukung eksplorasi awal bunyi konsonan dan pengucapan.

Mouthing pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Jika mouthing terus muncul secara intens hingga usia di atas 2–3 tahun, terutama pada ABK, maka perlu dicermati lebih lanjut. Perilaku ini bukan lagi bagian dari perkembangan normal, melainkan bisa menjadi gejala dari:

  • Regulasi Sensorik (Stimming): ABK, terutama anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), sering mengalami perbedaan dalam memproses input sensorik. Mouthing menjadi bentuk self-stimulatory behavior (stimming) yang membantu mereka mengatur diri saat merasa hiposensitif atau hipersensitif terhadap lingkungan.
  • Penguatan Otomatis: Analisis fungsional menunjukkan bahwa mouthing sering dimotivasi secara internal (otomatis), bukan karena perhatian atau motivator sosial.
  • Komunikasi: Anak-anak yang mengalami keterbatasan dalam komunikasi verbal mungkin menggunakan mouthing sebagai strategi non verbal untuk menyampaikan kebutuhan, mengelola stres, atau berinteraksi dengan lingkungan.

Analisis Fungsi Perilaku

Dalam pendekatan ABA, Functional Behavior Assessment (FBA) dilakukan untuk memahami “mengapa” suatu perilaku terjadi. Fungsi dari mouthing sering kali sebagai bentuk pencarian stimulasi sensorik, namun dalam beberapa kasus juga muncul karena dorongan mencari perhatian atau menghindari tuntutan.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Anak Mouthing?

Ketika anak menunjukkan perilaku mouthing secara berulang, berikut adalah langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua:

  1. Amati dan Pahami Penyebabnya
  • Catat kapan, di mana, dan dalam situasi apa anak mouthing.
  • Identifikasi apakah perilaku ini terjadi karena:
    • Kebutuhan sensoris,
    • Mencari perhatian,
    • Menghindari tugas, atau
    • Meredakan kecemasan dan kebosanan.

Langkah ini menjadi dasar bagi intervensi yang tepat.

  1. Berikan Benda Alternatif yang Aman
  • Tawarkan benda seperti chewy tube atau mainan gigitan.
  • Pastikan benda tersebut aman dan sesuai usia (hindari risiko tersedak).
  1.  Gunakan Penguatan Positif
  • Puji atau beri hadiah kecil saat anak tidak mouthing atau menggunakan benda yang sesuai.
  • Hindari hukuman fisik maupun emosional.
  1. Ajarkan Perilaku Pengganti
  • Libatkan anak dalam aktivitas tangan seperti memegang boneka, bermain pasir, atau makan camilan sehat jika memungkinkan.
  1. Konsultasi dengan Profesional
  • Bila mouthing menetap dan mengganggu:
    • Hubungi dokter anak, terapis, atau BCBA (Board Certified Behavior Analyst).
    • Pertimbangkan asesmen sensorik dan intervensi ABA.
  1. Kolaborasi dengan Lingkungan Sekitar
  • Informasikan strategi kepada guru, pengasuh, atau anggota keluarga lain.
  • Pendekatan yang konsisten dan berbasis tim akan lebih efektif.

Baca Juga : Pengaruh Kelekatan Terhadap Perkembangan Emosi Pada Anak

Kesimpulan

Mouthing yang terus menerus pada ABK merupakan sinyal dari kebutuhan yang mendalam—baik sensorik, komunikasi, maupun motorik. Dengan memahami fungsi perilaku dan menerapkan strategi intervensi yang berbasis bukti seperti ABA, anak dapat dibantu untuk mengganti mouthing dengan perilaku yang lebih adaptif dan aman.Langkah pertama yang penting adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perilaku anak. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika mouthing mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau menimbulkan risiko kesehatan.

Ditulis oleh : Fidiya Yasmin Nur Staniya, S.Psi. 18 Juli 2025

Referensi:

Cooper, J. O., Heron, T. E., & Heward, W. L. (2019). Applied Behavior Analysis (3rd Edition). Hoboken, NJ: Pearson Education

Fagan, M. K., & Iverson, J. M. (2007). The influence of mouthing on infant vocalization. Infancy, 11(2), 191–202. https://doi.org/10.1111/j.1532-7078.2007.tb00222.x

Fessler, D. M. T., & Abrams, E. T. (2004). Infant mouthing behavior: The immunocalibration hypothesis. Medical Hypotheses, 63(6), 925–932. https://doi.org/10.1016/j.mehy.2004.08.004

Goh, H.-L., Iwata, B. A., Shore, B. A., DeLeon, I. G., Lerman, D. C., Ulrich, S. M., & Smith, R. G. (1995). An analysis of the reinforcing properties of hand mouthing. Journal of Applied Behavior Analysis, 28(3), 269–283. https://doi.org/10.1901/jaba.1995.28-269

Kwong, L., Ercumen, A., Pickering, A., Unicomb, L., Davis, J., & Luby, S. (2016). Hand- and object-mouthing of rural bangladeshi children 3–18 months old. International Journal of Environmental Research and Public Health, 13(6), 563. https://doi.org/10.3390/ijerph13060563

Miltenberger, R. G. (2016). Behavior modification : principles and procedures. W. Ross Macdonald School Resource Services Library.Sheridan, M. D., Sharma, A., & Cockerill, H. (2008). From birth to five years : Children’s developmental progress (3rd ed.). Routledge.

Share Via :
Scroll to Top