Ayah Bunda, disleksia adalah gangguan belajar yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, dan mengeja. Kondisi ini bersifat seumur hidup dan bisa terjadi pada anak dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat. Meski disleksia sering dikaitkan dengan kesulitan belajar, banyak penelitian menunjukkan bahwa anak dengan disleksia juga memiliki tingkat kreativitas tinggi, kemampuan berpikir yang kuat, serta daya imajinasi yang luar biasa.
Namun, tantangan terbesar bagi anak disleksia terletak pada kemampuan mereka memproses informasi secara visual dan pendengaran. Untuk itu, nutrisi dan pola makan yang tepat dapat menjadi salah satu cara alami untuk membantu meningkatkan fungsi otak, memori, serta emosi anak.
Mengapa Penting Diet untuk Anak Disleksia?
Tahukah Ayah Bunda? penelitian terbaru menunjukkan bahwa asupan makanan berpengaruh besar terhadap fungsi otak dan keseimbangan emosi. Makanan bukan hanya sumber energi, tetapi juga faktor penting dalam mendukung perkembangan kognitif dan kemampuan fokus anak.
Bagi anak disleksia, diet yang tepat dapat membantu:
- Meningkatkan konsentrasi dan daya ingat.
- Mengurangi gangguan mood atau kecemasan.
- Memperkuat fungsi saraf dan otak.
- Menstabilkan emosi, sehingga anak lebih mudah belajar dengan tenang.
Dengan pemilihan makanan yang tepat, Ayah Bunda dapat membantu anak disleksia mengoptimalkan potensinya tanpa tekanan berlebihan.
Nutrisi Penting untuk Anak Disleksia
Berikut beberapa zat gizi penting yang telah terbukti bermanfaat untuk mendukung fungsi kognitif dan emosional anak disleksia:
1. Asam Lemak Omega-3 (EPA, DHA, LNA)
Omega-3 dikenal sebagai “makanan otak” yang dapat meningkatkan fungsi saraf dan membantu memperbaiki komunikasi antar sel otak. Selain itu, omega-3 juga dapat membantu anak dengan gangguan suasana hati (mood disorder).
Sumber makanan: ikan salmon, tuna, chia seed, flaxseed, walnut, dan selai kacang alami.
2. Curcuma (Kunyit)
Kandungan kurkumin pada kunyit memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi yang dapat memperbaiki kerusakan kognitif, terutama pada kondisi stres atau trauma otak.
Sumber makanan: kunyit segar, jamu kunyit asam, atau bubuk kunyit organik yang ditambahkan ke masakan.
3. Flavonoid
Flavonoid adalah antioksidan kuat yang terbukti dapat meningkatkan kognitif, terutama jika dikombinasikan dengan olahraga rutin.
Sumber makanan: cokelat hitam 70%, teh hijau, jeruk, dan buah beri.
4. Vitamin B Kompleks (B6, B12, dan Folat)
Vitamin B berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem saraf dan meningkatkan daya ingat. Kekurangan vitamin B dapat menyebabkan anak cepat lelah dan sulit fokus.
Sumber makanan: kacang-kacangan, sayuran hijau (bayam, kangkung), ikan salmon, kerang tiram, telur, susu, keju, alpukat, pisang, tempe, dan gandum.
5. Vitamin D
Vitamin D tidak hanya penting untuk tulang, tetapi juga untuk perkembangan otak dan peningkatan fungsi kognitif.
Sumber makanan: hati ikan, ikan berlemak, jamur, susu fortifikasi, susu kedelai, dan sereal.
6. Vitamin E
Sebagai antioksidan alami, vitamin E membantu melindungi sel otak dari kerusakan akibat radikal bebas serta menjaga kesehatan kognitif seiring pertumbuhan.
Sumber makanan: alpukat, asparagus, bayam, kacang almond, dan biji bunga matahari.
7. Kolin (Choline)
Kolin merupakan nutrisi penting yang membantu pembentukan neurotransmitter (zat kimia otak) yang berperan dalam memori dan pembelajaran.
Sumber makanan: kuning telur, daging ayam, hati sapi, dan sayuran hijau seperti selada.
8. Mineral Penting: Kalsium, Zinc, dan Selenium
Ketiga mineral ini berperan besar dalam menjaga kesehatan otak dan sistem saraf.
- Zinc membantu meningkatkan daya ingat dan kemampuan belajar.
- Selenium berperan dalam fungsi kognitif dan perlindungan sel otak dari stres oksidatif.
- Kalsium membantu transmisi sinyal antar sel otak.
Sumber makanan: susu, kacang-kacangan, ikan, telur, tiram, almond, biji bunga matahari, dan daging merah.
9. Zat Besi
Zat besi membantu meningkatkan kadar oksigen dalam otak sehingga meningkatkan fokus dan kemampuan berpikir.
Sumber makanan: daging merah, ikan, kacang-kacangan, dan udang kecil (rebon).
Tips Praktis Menyusun Pola Makan Anak Disleksia
- Sajikan makanan berwarna alami (sayur, buah, biji-bijian, ikan).
- Kurangi konsumsi gula berlebih dan makanan olahan.
- Pastikan anak cukup minum air putih.
- Berikan camilan sehat seperti kacang, buah potong, atau yogurt.
- Ajak anak memasak bersama agar ia mengenal makanan sehat dengan cara menyenangkan.
Baca Juga : Apakah Autisme Bisa Disembuhkan? Kenali Fakta, Mitos, dan Cara Menanganinya
Kesimpulan
Ayah Bunda, menyusun diet untuk anak disleksia bukan berarti membatasi makanan, melainkan menyeimbangkan asupan nutrisi yang dapat membantu perkembangan otak dan emosi. Kombinasi antara pola makan bergizi, dukungan keluarga, dan pendekatan belajar yang tepat akan membantu anak disleksia tumbuh dengan percaya diri dan berprestasi.
Diet untuk anak disleksia dapa dilakukan dengan memperhatikan nutrisi penting seperti omega-3, vitamin B kompleks, dan mineral esensial, Ayah Bunda dapat membantu anak disleksia mencapai potensi terbaiknya. Karena setiap anak unik, dan setiap langkah kecil menuju pola makan sehat adalah investasi besar untuk masa depannya.
Untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut Hubungi :
Klinik Tumbuh Kembang Anak Niumiu
No. WhatsApp 0821-2082-3522 / Klik WA Disini
Ditulis oleh : Tria Handayani, S.Gz. – 28 Oktober 2025
Referensi:
Gómez-Pinilla F. Brain foods: the effects of nutrients on brain function. Nat Rev Neurosci. 2008 Jul;9(7):568-78. doi: 10.1038/nrn2421. PMID: 18568016; PMCID: PMC2805706.
Gewa, C. A., Weiss, R. E., Bwibo, N. O., Whaley, S., Sigman, M., Murphy, S. P., Harrison, G., & Neumann, C. G. (2009). Dietary micronutrients are associated with higher cognitive function gains among primary school children in rural Kenya. The British journal of nutrition, 101(9), 1378–1387. https://doi.org/10.1017/S0007114508066804
