Ayah Bunda, di zaman sekarang, kita sering mendengar istilah narsis, narcissist, atau NPD, terutama dari media sosial. Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan orang yang suka memamerkan diri atau ingin selalu diperhatikan. Namun, bagaimana jika sikap seperti ini justru terlihat pada anak kita sendiri? Apakah itu masih wajar? Atau justru perlu menjadi perhatian khusus?
Tenang Ayah Bunda, yuk kita pahami bersama secara pelan-pelan dan sederhana.
Apa Itu NPD pada Anak?
Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah kondisi psikologis di mana seseorang memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk dipuji, merasa dirinya lebih penting dari orang lain, dan sulit memahami perasaan orang di sekitarnya. Jadi, NPD bukan sekadar anak yang percaya diri atau bangga pada dirinya, tetapi sudah sampai mengganggu cara ia berhubungan dengan orang lain.
Pada anak-anak, NPD belum bisa langsung didiagnosis secara resmi seperti pada orang dewasa. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanda-tandanya bisa mulai terlihat sejak anak-anak atau remaja. Misalnya, anak sering kesulitan berteman, ingin selalu menang saat bermain, atau tidak nyaman saat harus berbagi perhatian dengan orang lain.
Ciri-Ciri NPD yang Bisa Muncul pada Anak
Ayah Bunda, anak dengan kecenderungan perilaku narsistik biasanya menunjukkan beberapa tanda berikut:
- Sering merasa dirinya paling hebat atau paling penting
- Sangat ingin dipuji dan diperhatikan
- Sulit memahami perasaan orang lain atau kurang peduli saat orang lain sedih
- Mengalami masalah dalam pertemanan atau hubungan sosial
- Mudah tersinggung, terutama saat dikritik atau tidak mendapatkan perhatian
Perlu diingat, Ayah Bunda. Tidak semua anak dengan ciri di atas pasti mengalami NPD. Namun, jika perilaku tersebut sering muncul, berlangsung lama, dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari anak, maka sebaiknya tidak diabaikan.
Mengapa Anak Bisa Mengalami Kecenderungan NPD?
NPD tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhi, di antaranya:
1. Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh yang terlalu membebaskan tanpa batas, terlalu sering memuji tanpa keseimbangan, atau sebaliknya terlalu keras secara emosional, dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya dan orang lain.
2. Pengalaman Masa Kecil
Anak membutuhkan kasih sayang sekaligus aturan yang jelas. Jika salah satunya terlalu kurang atau terlalu berlebihan, anak bisa tumbuh dengan kebutuhan besar akan pengakuan dari orang lain.
3. Lingkungan Sosial dan Media
Media sosial juga berperan besar. Anak dan remaja sering melihat standar “kesempurnaan” yang membuat mereka ingin selalu terlihat hebat dan mendapat banyak pujian.
4. Faktor Bawaan
Beberapa sifat kepribadian memang bisa diturunkan. Meski belum ada bukti pasti, faktor genetik dapat membuat anak lebih rentan memiliki kecenderungan tertentu.
Dampak Jika Tidak Ditangani
Jika kecenderungan NPD pada anak tidak mendapatkan perhatian yang tepat, anak bisa mengalami beberapa dampak berikut:
- Harga diri yang rapuh, terlihat percaya diri, tetapi mudah sekali merasa terluka
- Sulit membangun hubungan yang sehat, baik dengan teman, guru, maupun orang di sekitarnya
- Masalah emosi, seperti mudah cemas, sedih, atau marah berlebihan
Apa yang Bisa Ayah Bunda Lakukan?
Ayah Bunda tidak perlu merasa sendirian. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
1. Terapkan pola asuh yang seimbang
Berikan kasih sayang, perhatian, dan pujian, tetapi tetap disertai aturan dan batasan yang jelas.
2. Ajarkan empati sejak dini
Ajak anak mengenal perasaan orang lain melalui cerita, obrolan ringan, atau contoh sehari-hari.
3. Dukung hubungan sosial anak
Dorong anak untuk belajar bekerja sama, berbagi, dan menghargai teman, bukan hanya fokus pada prestasi pribadi atau dirinya sendiri.
4. Jangan ragu mencari bantuan profesional
Jika perilaku anak terasa berat dan mengganggu kesehariannya, berkonsultasi dengan psikolog anak adalah langkah yang bijak.
Baca Juga : Apa Itu Cerebral Palsy pada Anak? Penyebab, Gejala, dan Intervensi Dini yang Wajib Diketahui!
Kesimpulan
Ayah Bunda, memahami NPD pada anak bukan untuk memberi cap atau label negatif, melainkan agar kita bisa lebih peka terhadap kebutuhan emosional anak. Perilaku narsistik pada anak sering berkaitan dengan pola asuh, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial. Dengan pendampingan yang penuh kasih, seimbang, dan tepat, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri tanpa kehilangan empati terhadap orang lain. Kita juga bisa membantu anak tumbuh menjadi individu yang kuat secara emosional dan sosial.
Untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut Hubungi :
Klinik Tumbuh Kembang Anak Niumiu
No. WhatsApp 0821-2082-3522 / Klik WA Disini
Referensi:
Kernberg, P. F. (1989). Narcissistic personality disorder in childhood. PubMed.
van Schie, C. C., Jarman, H. L., Huxley, E., & Grenyer, B. F. S. (2020). Narcissistic traits in young people: understanding the role of parenting and maltreatment. Borderline Personality Disorder and Emotion Dysregulation, 7, 10.
Muratori, P., Milone, A., Levantini, V., Pisano, S., Spensieri, V., & Valente, E. (2020). Narcissistic traits as predictors of emotional problems in children with oppositional defiant disorder: A longitudinal study. Journal of Affective Disorders.
