perilaku agresif

Perilaku Agresif pada Anak? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Ayah Bunda, pernahkah Anda melihat si Kecil tiba-tiba membentak, memukul, atau melempar mainan saat keinginannya tidak terpenuhi? Perilaku agresif pada anak memang wajar muncul, terutama pada usia 2 tahun ketika kemampuan bahasa anak belum berkembang maksimal. Namun, perilaku agresif yang muncul terus-menerus, dengan frekuensi tinggi dan intensitas yang kuat, bisa menjadi tanda adanya masalah emosional atau sosial yang perlu diperhatikan.

Artikel ini akan membahas apa itu perilaku agresif pada anak, jenis-jenisnya, faktor penyebab, serta cara menanganinya agar Ayah Bunda dapat membimbing si Kecil dengan tepat.

Apa Itu Perilaku Agresif pada Anak?

Secara sederhana, perilaku agresif adalah tindakan menyakiti atau menyerang orang lain maupun benda secara sengaja. Perilaku ini bisa bersifat verbal maupun nonverbal, contohnya: membentak, mengejek, memukul, menendang, atau merusak benda di sekitarnya.

Perilaku agresif pada anak bisa muncul dalam berbagai bentuk, di antaranya:

  • Agresi Proaktif: Dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya mengambil mainan teman dengan sengaja.
  • Agresi Relasional: Digunakan untuk manipulasi sosial melalui kata-kata, misalnya mengucilkan teman atau menyebarkan gosip.
  • Agresi Reaktif: Sebagai respons balas dendam ketika merasa disakiti atau terancam.
  • Agresi Fisik: Menyebabkan luka atau kerusakan, contohnya memukul, menendang, atau melempar benda.

Jenis-Jenis Perilaku Agresif pada Anak

Dengan mengetahui jenis agresi, tentu dapat membantu Ayah Bunda lebih tepat dalam menanganinya. Berikut penjelasan lebih rinci:

  1. Agresi Verbal
    Tindakan melukai orang lain secara verbal, seperti membentak, menghina, memaki, atau mengejek.
  2. Agresi Fisik
    Tindakan yang melibatkan kekerasan fisik, contohnya menendang, memukul, mendorong, atau merusak barang.
  3. Kemarahan
    Perasaan tidak senang yang muncul karena sakit fisik, psikologis, atau frustrasi. Anak dapat menunjukkan kemarahan dengan menangis, memukul, atau tantrum.
  4. Permusuhan
    Sikap negatif terhadap orang lain berdasarkan prasangka atau asumsi sendiri. Contohnya cemburu, dendam, atau sikap curiga.

Faktor-Faktor yang Memicu Perilaku Agresif

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pola asuh dan lingkungan keluarga sangat memengaruhi munculnya perilaku agresif pada anak. Faktor utama meliputi:

1. Konflik Antara Orang Tua

Ketegangan atau pertengkaran antara orang tua dapat membuat anak bingung dalam memahami emosi dan situasi sosial. Akibatnya, anak bisa meniru atau mengekspresikan kemarahan melalui agresi terhadap teman sebaya.

2. Kurangnya Dukungan Emosional

Anak yang jarang mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau dorongan positif dari orang tua cenderung mengalami kesulitan mengatur emosinya. Hal ini bisa membuat mereka lebih mudah marah, cemas, dan menunjukkan perilaku agresif.

3. Kurangnya Stimulasi Kognitif

Perkembangan kognitif yang terhambat dapat menyebabkan anak kesulitan memecahkan masalah atau berinteraksi dengan orang lain. Anak yang jarang diajak berbicara, bermain edukatif, atau diberi kesempatan memahami dunia sekitar, berisiko menunjukkan perilaku agresif karena frustasi.

Cara Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak

Perilaku agresif pada anak bisa dicegah dan dikurangi melalui pola asuh yang konsisten, penuh perhatian, dan edukatif. Berikut beberapa strategi praktis untuk Ayah dan Bunda:

  1. Bimbing Anak untuk Merefleksikan Tindakan
    Ajarkan anak berpikir tentang apa yang dilakukannya dan konsekuensi dari tindakan tersebut (reflective practice). Misalnya, tanya: “Apa yang terjadi saat kamu memukul temanmu?” atau “Bagaimana perasaan temanmu saat itu?”
  2. Berikan Waktu Berkualitas untuk Anak
    Sediakan waktu khusus untuk mendengarkan curhatan dan cerita anak. Aktivitas ini membantu anak mengekspresikan emosinya tanpa agresi.
  3. Berikan Dukungan Emosional Secara Konsisten
    Ungkapkan kasih sayang dan apresiasi secara rutin. Misalnya, beri pujian ketika anak berhasil mengontrol emosinya: “Aku bangga kamu menunggu giliranmu.”
  4. Stimulasi Kognitif Melalui Bermain dan Diskusi
    Ajak anak bermain edukatif, menyelesaikan masalah sederhana, atau bercerita bersama. Ini membantu anak belajar mengontrol emosi dan memecahkan masalah dengan cara positif.
  5. Terapkan Konsekuensi yang Jelas
    Anak perlu memahami batasan. Terapkan aturan dan konsekuensi secara konsisten agar anak tahu tindakan agresif tidak diperbolehkan.

Baca Juga : Dampak Media Sosial terhadap Karakter Anak

Kesimpulan

Perilaku agresif pada anak memang bisa muncul sebagai bagian dari perkembangan normal, terutama pada anak usia dini. Namun, jika perilaku ini terus berlanjut, frekuensinya tinggi, dan intensitasnya kuat, Ayah Bunda perlu memperhatikan penyebab dan memberikan intervensi yang tepat.

Pola asuh yang penuh perhatian, konsisten, dan edukatif sangat penting untuk membantu anak mengatur emosinya, memahami konsekuensi tindakan, dan mencegah perilaku agresif berkembang lebih parah. Dengan bimbingan yang tepat, anak akan belajar mengekspresikan emosi secara positif, membangun hubungan sosial yang sehat, dan tumbuh menjadi individu yang lebih empatik serta terkendali.

Referensi:

Davies, P. T., Thompson, M. J., Hentges, R. F., Coe, J. L., & Sturge-Apple, M. L. (2020). Children’s attentional biases to emotions as sources of variability in their vulnerability to interparental conflict. Developmental Psychology, 56(7), 1343.

Hentges, R. F., Davies, P. T., & Cicchetti, D. (2015). Temperament and interparental conflict: The role of negative emotionality in predicting child behavioral problems. Child Development, 86(5), 1333–1350.

Kodak, R. N., & Güzel, H. Ş. (2024). Aggression among preschool children within the framework of temperament, attachment and parental attitudes. Psikiyatride Güncel Yaklaşımlar, 16(1), 48–57.

Padilla, C. M., Hines, C. T., & Ryan, R. M. (2020). Infant temperament, parenting and behavior problems: Variation by parental education and income. Journal of Applied Developmental Psychology, 70, 101179.

Pu, D. F., & Rodriguez, C. M. (2021). Spillover and crossover effects: Mothers’ and fathers’ intimate partner violence, parent-child aggression risk, and child behavior problems. Child Maltreatment, 26(4), 420–430.

Share Via :
Scroll to Top