hukuman pada anak

Benarkah Menghukum Efektif? Ketahui Fakta tentang Memberi Hukuman pada Anak!

Ayah Bunda, sebagai orang tua tentu kita ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang sopan, disiplin, dan bertanggung jawab. Maka tidak jarang, ketika anak berperilaku negatif, seperti membantah, berteriak, atau melanggar aturan. Sebagian orang tua langsung memberikan hukuman dengan harapan anak akan jera dan tidak mengulanginya lagi. Namun, tahukah Ayah dan Bunda bahwa pemberian hukuman tidak selalu menghasilkan efek positif? Bahkan, dalam beberapa kasus, hukuman bisa menimbulkan dampak emosional dan perilaku yang tidak diinginkan pada anak.

Jadi, pada artikel ini kita akan mengulas secara lengkap tentang efek pemberian hukuman pada anak, baik dari sisi psikologis maupun perilaku, agar orang tua bisa lebih bijak dalam mendidik buah hati.

Apa Itu Hukuman dalam Konteks Pengasuhan?

Dalam psikologi, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang diberikan untuk menurunkan kemungkinan munculnya perilaku tertentu. Ada dua jenis hukuman yang dikenal:

  1. Positive Punishment: menambahkan konsekuensi yang tidak menyenangkan (misalnya: memarahi, mencubit, atau memukul).
  2. Negative Punishment: menghilangkan sesuatu yang disukai anak (misalnya: melarang bermain, mencabut waktu menonton TV).

Meskipun tujuannya agar anak belajar dari kesalahan, efek psikologis dari hukuman sering kali lebih besar daripada manfaatnya.

Efek Negatif Memberi Hukuman

1. Munculnya Reaksi Emosional dan Agresif

Hukuman fisik seperti mencubit atau memukul dapat memicu emosi marah, dendam, atau agresivitas pada anak. Anak bisa jadi belajar bahwa kekerasan adalah cara untuk menyelesaikan masalah, dan tanpa sadar mereka akan meniru perilaku tersebut pada orang lain.

Contohnya, ketika orang tua menampar anak karena berteriak, anak mungkin berhenti berteriak saat itu juga, tetapi ia bisa melampiaskan kemarahan yang sama dengan berteriak atau memukul adiknya.

2. Perilaku Menghindar dan Melarikan Diri

Anak yang sering mendapat hukuman keras akan cenderung menghindar dari situasi atau orang yang menghukumnya. Misalnya, ketika anak datang terlambat dan mendapat hukuman di sekolah, ia bisa saja memilih tidak datang lagi ke sekolah untuk menghindari hukuman berikutnya. Alih-alih belajar disiplin, anak justru belajar menghindari tanggung jawab.

3. Terjadinya Behavioral Contrast

Ayah Bunda, istilah ini menggambarkan kondisi ketika perilaku anak berubah hanya sementara karena takut hukuman, tetapi kembali muncul di waktu atau tempat lain.

Contohnya, ketika anak berteriak dan orang tua menghukumnya dengan cubitan, mungkin teriakan itu berhenti di rumah. Namun di luar rumah, di sekolah atau bersama teman, anak malah menjadi lebih vokal dan sulit dikendalikan. Artinya, hukuman tidak mengubah perilaku secara mendasar, hanya menekan sementara.

4. Modeling of Undesirable Behavior (Peniruan Perilaku Buruk)

Salah satu efek paling berbahaya dari hukuman adalah anak meniru perilaku negatif orang tua. Ketika orang tua memukul, membentak, atau mempermalukan anak, tanpa disadari mereka sedang mengajarkan bahwa kekerasan itu wajar.

Akibatnya, anak belajar bahwa untuk mengontrol orang lain, mereka juga bisa menggunakan cara serupa, seperti memukul teman atau membentak adik. Inilah yang disebut pemodelan perilaku tidak diinginkan.

5. Overuse of Punishment (Kebiasaan Menghukum Berlebihan)

Pemberi hukuman (dalam hal ini orang tua) sering kali merasa “lega” setelah menghukum anak. Perasaan lega ini justru memperkuat kebiasaan orang tua untuk terus menghukum, tanpa sadar hukuman menjadi semakin berat dan lebih sering dilakukan.

Contohnya, ketika anak tidak mau belajar, orang tua awalnya hanya menegur, lalu mulai membentak, mencubit, dan akhirnya memukul. Pola ini bisa berlanjut dan mengikis hubungan emosional antara anak dan orang tua.

Hukuman Boleh, Tapi Bukan Prioritas

Ayah Bunda, bukan berarti hukuman sama sekali dilarang. Namun, para ahli psikologi anak sepakat bahwa hukuman sebaiknya menjadi opsi terakhir setelah pendekatan lain tidak berhasil.

Sebelum menghukum, cobalah beberapa alternatif berikut:

  • Gunakan penguatan positif (positive reinforcement) seperti pujian, pelukan, atau hadiah kecil ketika anak berperilaku baik.
  • Beri konsekuensi logis, bukan hukuman fisik. Misalnya, jika anak menumpahkan air, ajak ia untuk membantu membersihkannya.
  • Bicarakan dengan tenang alasan mengapa perilakunya tidak tepat.
  • Fokuslah pada perbaikan, bukan pembalasan.

Dengan pendekatan ini, anak belajar memahami konsekuensi alami dari tindakannya dan merasa dihargai, bukan ditakuti.

Baca Juga : Generasi Alpha? Teknologi, Tantangan, dan Masa Depan Tumbuh Kembang Anak di Era Digital!

Kesimpulan

Hukuman mungkin tampak efektif dalam jangka pendek, tetapi dampak emosional dan perilaku jangka panjangnya bisa merugikan anak.
Mulai dari munculnya rasa takut, agresi, hingga rusaknya hubungan orang tua–anak, semua itu bisa terjadi jika hukuman diberikan tanpa kendali dan empati.

Ayah Bunda sebaiknya menggunakan hukuman hanya sebagai Langkah atau opsi terakhir, setelah berbagai pendekatan positif dicoba. Daripada menanamkan ketakutan, mari tanamkan kesadaran dan tanggung jawab melalui kasih sayang, komunikasi, dan contoh nyata. Karena pada akhirnya, anak belajar bukan dari rasa sakit, tapi dari rasa dicintai.

Referensi:

Cooper, J. O., Heron, T. E., & Heward, W. L.(2019). Applied Behavior Analysis (3rd Edition). UK: Pearson Education.

Share Via :


📞 AMBIL PROMONYA SEKARANG
Scroll to Top